6/27/2008

MA. Salafiyah Syafi’iyah

:-Profil

Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng merupakan salah satu unit pendidikan formal yang berada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, bertujuan membentuk manusia muslim yang berilmu, beramal, bertakwa berbudi luhur, mandiri serta mampu berjuang dan mengabdi bagi agama, nusa dan bangsa.
Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah, terhitung sejak tahun pelajaran 1997-1998 meraih status disamakan, status yang pada tahun itulah baru dicanangkan bagi madrasah-madrasah swasta yang bernaung di bawah Departemen Agama berdasarkan SK Dirjen Binbaga Depag RI No. 25/E IV.PP.03.2/KEP/III/97. Pada tahun yang sama pula meraih juara pertama Madrasah teladan Jawa Timur. Berbagai predikat ini semakin menambah deret perkembangan pesat yang telah dicapai Madrasah Aliyah pada usianya kini yang telah mencapai 35 tahun.
Para santri yang belajar di MASS Tebuireng berasal dari berbagai daerah dengan asal pendidikan Tsanawiyah maupun SLTP baik negeri maupun swasta, dengan tenaga pengajar sejumlah 60 orang yang sebagian besar bersertifikasikan sarjana strata satu maupun dua dengan basic pesantren. Aset sumber daya manusia yang sedemikian besar ini mendorong terwujudnya lembaga pendidikan yang semakin maju dan berkembang. Oleh karenanya, program utama saat ini adalah peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan perkembangan masyarakat.


:-Visi & Misi

Visi
Berkualitas dalam keilmuan, berjiwa Islami, kreatif dan mandiri
Misi
Mewujudkan intelektual muslim yang berkualita, berwawasan global dan berdedikasi tinggi
Memperdalam dan mengamalkan ilmu dan prinsip-prinsip keIslaman sesuai dengan konteks perkembangan zaman
Membentuk kepribadian yang berakhlaq karimah
Mengembangkan bakat dan kemampuan siswa menuju siswa kreatif dan mandiri

:-Ekstra Kurikuler

Pengajian kitab-kitab salaf (klasik/kuning)
Komputerisasi kitab kuning (CD Program Islam)
Keorganisasian-Kepemimpinan
Pelatihan Dakwah, pers, olah raga dan pramuka
Seni bela diri dan musik
Forum kajian dan diskusi santri
Pengawasan dan pembinaan belajar di asrama
Organisasi Siswa Intre Sekolah
Tebuireng English and Arabic Club (siswa MAK)
Forum Diskusi Santri Salaf (siswa Salaf)

:-Sarana Penunjang
Perpustakaan sekolah
Perpustakaan Induk Pesantren
Laboratorium Bahasa Induk
Laboratorium Komputern dan Mengetik
Asrama Santri Pondok Pesantren
Asrama khusus siswa MAK dan Salaf
Masjid
Sarana Olah Raga dan Kesehatan
Balai Pengobatan Santri
Koperasi dan Kantin Jasa Boga
Publish Post
Wartel-Warnet

sumber: tebuireng.net

Read More......

6/25/2008

Ponpes Tebuireng, Kenalkan Islam Tumpas Kemaksiatan

Jombang (GP-Ansor): Mulanya lokasi ini sebagai sarang maksiat, namun justru dipilihnya untuk dijadikan sarana dakwah. Itulah kisah didirikannya pondok pesantren Tebuireng oleh KH. Hasyim Asy’ari atau para santrinya biasa menjuluki dengan hadratusyaikh.

Memang banyak cara yang dilakukan para tokoh pemuka agama untuk mengenalkan Islam. Salah satunya, mendirikan pondok pesantren justru pada lokasi yang menjadi tempat maksiat.

Strategi inilah yang mungkin dipakai Kiai Hasyim Asy’ari untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di Jombang yang merupakan tanah kelahirannya. Ulama pembaharu pesantren yang juga sebagai pendiri organisasi masyarakat (ormas) Nahdlatul Ulama (NU) ini, pada zaman dulu berupaya agar masyarakat Jombang terhindar dari segala perbuatan maksiat.

Diceritakan salah satu sumber di Pondok Pesantren Tebuireng, sebelum Pondok Tebuireng dibangun, lokasi ini kerap dipakai untuk perbuatan maksiat, baik judi, mabuk maupun prostitusi. Lokasi ini memang mendukung untuk melakukan perbuatan-perbuatan itu karena memang letaknya berdekatan dengan Pabrik Gula Tjoekir yang pada waktu itu menjadi milik Belanda. Melihat fenomena ini, Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, 10 April 1875 itu kemudian menginginkan agar tempat ini menjadi tempat yang dipenuhi dengan umat muslim. Perlahan, dia mendirikan musala dan pesantren yang kini bernama Tebuireng.

Cara penyebaran agama Islam ini sebelumnya mendapat kecaman dari orang-orang sekitar. Namun dengan niat yang teguh dia tetap mengajarkan agama sesuai apa yang diperintahkan guru pendahulunya. Dia berpedoman mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat adalah salah satu tujuan utama perjuangannya. Saat ini, Tebuireng menjadi salah satu basis pondok pesantren di Jombang.

Masyarakat santri yang diidam-idamkan Hasyim Asy’ari pun kini menjadi kenyataan. Bukan hanya itu, santri Kiai Hasyim Asy’ari sendiri telah mampu mendirikan pondok-pondok besar di luar Kota Jombang. Tak salah jika Kiai Hasyim Asy’ari dijuluki ‘Ulama Pembaharu Pesantren’. Sejak kecil, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kiai Utsman. Tempaan pendidikan yang berat membuat Hasyim Asy’ari mampu menjadi santri yang haus akan ilmu. Bahkan, untuk memperdalam ilmu agamanya tersebut, Hasyim Asy’ari harus berpindah dari satu pondok ke pondok lainnya.

Tak hanya di Indonesia, Hasyim Asy’ari juga berkesempatan menimba ilmu di Mekkah pada 1892. Di sana dia berguru soal hadits pada Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi. Perjuangannya terhadap umat kembali dia tunjukkan dengan didirikannya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 31 Januari 1926. Bersama tokoh-tokoh Islam tradisional, Hasyim Asy’ari membesarkan NU hingga saat ini NU menjadi organisasi massa (ormas) dengan simpatisan terbesar di Indonesia. Berbeda dengan kiai-kiai yang berlabel NU lainnya, Kiai Hasyim Asy’ari tak ingin ada peringatan haul (memperingati wafat) atas dirinya, sebelum dia wafat tanggal 25 Juli 1947 silam.

’’Beliau takut jika ada yang mengultuskan dirinya. Meski begitu, beliau tak menolak adanya haul seperti yang banyak dilakukan kiai-kiai NU lainnya,’’ ujar Anas, Sekretaris Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Tebuireng. (jp/w)


Read More......

Ma'had Aly Tebuireng

Pondok Pesantren Tebuireng dirintis oleh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari pada tahun 1899 . Sebagai ulama' yang bercita-cita ingin menyebarkan ajaran Islam untuk melenyapkan kemungkaran meningkatkan kesejahteraan di muka bumi ini. Semangat tersebut terus dikembangkan oleh para generasi yang memimpin Pondok Tebuireng hingga sekarang, terutama yang berkaitan dengan memperluas kehidupan keagamaan dan munculnya berbagai persoalan baru yang memerlukan status landasan hukum Islam. Melihat kenyataan demikian, sangat dibutuhkan munculnya ulama' / sarjana agama yang berkualitas dan mampu mengatasi problematika yang dihadapi umat Islam.
Sejak berdirinya, Pesantren Tebuireng berprinsip bahwa pesantren dan kitab kuning merupakan dua sisi suatu benda yang tidak terpisahkan. Prinsip tersebut diwujudkan dengan melakukan pengkajian metode dan karya-karya ulama' salaf yang bersumber dari kitab kuning. Hal tersebut cukup relevan bagi santri yang berminat mendalami bidang studi keagamaan secara mendalam.
Hal-hal tersebut menjadi alasan kuat bagi Pesantren Tebuireng untuk melengkapi unit-unit pendidikannya dengan Perguruan Tinggi setingkat S1, "Ma'had 'Aly Hasyim Asy'ari".

Pondok Pesantren Tebuireng dirintis oleh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari pada tahun 1899 . Sebagai ulama' yang bercita-cita ingin menyebarkan ajaran Islam untuk melenyapkan kemungkaran meningkatkan kesejahteraan di muka bumi ini. Semangat tersebut terus dikembangkan oleh para generasi yang memimpin Pondok Tebuireng hingga sekarang, terutama yang berkaitan dengan memperluas kehidupan keagamaan dan munculnya berbagai persoalan baru yang memerlukan status landasan hukum Islam. Melihat kenyataan demikian, sangat dibutuhkan munculnya ulama' / sarjana agama yang berkualitas dan mampu mengatasi problematika yang dihadapi umat Islam.
Sejak berdirinya, Pesantren Tebuireng berprinsip bahwa pesantren dan kitab kuning merupakan dua sisi suatu benda yang tidak terpisahkan. Prinsip tersebut diwujudkan dengan melakukan pengkajian metode dan karya-karya ulama' salaf yang bersumber dari kitab kuning. Hal tersebut cukup relevan bagi santri yang berminat mendalami bidang studi keagamaan secara mendalam.
Hal-hal tersebut menjadi alasan kuat bagi Pesantren Tebuireng untuk melengkapi unit-unit pendidikannya dengan Perguruan Tinggi setingkat S1, "Ma'had 'Aly Hasyim Asy'ari".

VISI DAN MISI

Visi :
Melahirkan generasi Khairu Ummah, Tafaqquh fi ad-Diin
Misi :

1. Menyelenggarakan studi agama secara mendalam menyeluruh melalui sistem perpaduan pendidikan pondok pesantren dan perguruan tinggi.
2. Mempersiapkan kaderisasi ahli fiqih yang dapat mewarisi dan mengembangkan tradisi ilmiah dan amaliah sesuai tuntutan zaman.

TUJUAN

1. Memberi kesempatan kepada santri senior untuk memperdalam ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu bantu yang diperlukan.
2. Menanamkan ethos Tafaqquh fi ad-Dien di kalangan santri agar mereka mampu memahami ajaran-ajaran Islam secara baik dan benar.
3. Mengkondisikan santri dalam suasana belajar yang dapat melahirkan ulama' yang mampu memecahkan masalah-masalah keagamaan secara tepat sesuai dengan perkembangan zaman.
4. Menanamkan sikap dan kemampuan santri agar memiliki sifat saleh (Akhlaq al-Karimah) dan kepakaran (Ulum an-Nafi'ah)

PROGRAM STUDI DAN KURIKULUM

1. Program Studi
1. Program studi ini berstatus S-1, berlangsung selama 4 (empat) tahun berturut-turut. Setiap tahun terdiri dari 2 (dua) semester.

2. Program studi mengutamakan peranan akhlaq karimah, disamping menguasai ilmu yang tertera dalam kurikulum dengan baik.

3. Program ini statusnya setara dengan lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh Departemen Agama (sekolah negeri).

2. Kurikulum Ma'had Aly disusun sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu mengkaji bidang studi Agama Islam dengan program kekhususan ilmu yang terbagi dalam 5 (lima) program bidang studi :
a. Program Pengajian pendalaman Tafsir
b. Program Pengajian pendalaman Hadits
c. Program Pengajian pendalaman Fiqih dan Ushul Fiqih
d. Program Pengajian pendalaman Ilmu Alat
e. Program Pengajian pendalaman Tasawuf

METODE BELAJAR
Proses belajar mengajar seluruhnya disampaikan dengan mengunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Adapun klasifikasi program belajar sebagai berikut :

1. Dirasah Yaumiyyah disampaikan dengan metode :
1. Ceramah dan dialog interaktif

2. Pengajian model bandongan dan sorogan

3. Studi kepustakaan literatur klasik keagamaan

4. Tadris wa at-ta'lim

5. Muhadatsah / Muhawaroh

6. Penugasan penulisan ilmiah

2. Kegiatan extra
1. Mudzakaroh / kajian mendalam terhadap kitab-kitab tertentu untuk penguasaan bidang studi dengan bimbingan dosen bidang studi

2. Membahas Masa'il Fiqhiyyah, Maudlu'iyyah dan Waqi'iyyah

TENAGA DOSEN
a. Prof. Dr. K.H. Syechul Hadi Permono, MA, SH.
b. Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA.
c. Prof. Dr. H. Djamaluddin Mirri, Lc., MA.
d. Prof. Dr. H. Ali Mustofa Ya'qub, MA.
e. H. Ahmad Syakir Ridwan, Lc. M.Hi.
f. Nur Hannan, Lc.
g. Drs. H.M. Farid Zaini, Lc.
h. H. Lutfi Sahal, Lc.
i. KH. Drs. M. Muthoharun Afif, Lc. M.Hi.
j. KH. Abdul Aziz Mansur
k. KH. Mustofa Bisri ( Gus Mus )
l. KH. Muhammad Habib
m. Najib Junaidi, Lc.
n. Zainur Ridlo Buyani, S.Pd.

KRITERIA CALON MAHASISWA
Calon mahasiswa Ma'had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang diharuskan memenuhi persyaratan sebagai berikut

1. Telah lulus pendidikan serendah-rendahnya Madrasah Aliyah

2. Memiliki kemampuan dasar dalam bidang ilmu yang akan menjadi pilihan spesialisasinya

3. Memiliki wawasan yang luas tentang kepesantrenan dalm kitab-kitab yang menjadi acuan utama pengajian di Tebuireng

BEASISWA DAN KUOTA

1. Jumlah yang diterima dibatasi sebanyak 30 orang mahasiswa,
2. Bagi 30 mahasiswa tersebut dibebaskan dari uang SPP , ujian semester, dan asrama.
3. Untuk menentukan 30 mahasiswa, Ma'had Aly Hasyim Asy’ari akan mengadakan seleksi.
4. Selama masa studi mahasiswa harus tinggal di asrama Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SARANA DAN FASILITAS
Untuk menunjang keberhasilan program studi Ma'had Aly Pondok Tebuireng menyediakan :
1. Asrama santri.
2. Gedung perkuliahan.
3. Perpustakaan dan komputer analisis data.
4. Lembaga kajian hukum Islam sebagai sarana praktek mahasiswa.
5. Bagi mahasiswa yang berprestasi pada setiap ujian semester akan diberikan penghargaan.
6. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Kantor Yayasan Hasyim Asy'ari Tebuireng Telp. (0321) 861133 - 863136 Fax 864110 atau dapat menghubungi M. Miftahul Huda, S.Pdi. nomor telp. 0321-7191785 / 085649117381

Read More......

KH. Abdul Wahid Hasyim (1914 - 1953)




KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, bertepatan dengan 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan MAtaram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.

Kesepuluh putra KH. Hasyim Asy’ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid, A. Khaliq, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara itu, dengan Nyai Masrurah KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai empat putera, yakni Abdul Kadir, Fatimah, Khodijah dan Ya’kub.

Mondok Hanya Beberapa Hari

Abdul Wahid mempunyai otak sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak ia sudah pandai membaca al-Qur’an, dan bahkan sudah khatam al-Qur’an ketika masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Abdul Wahid juga belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari Madrasah, ia sudah membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak seusianya.

Sebagai anak tokoh, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Ia lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di Madrasah, ia juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Abdul Wahid mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanya dengan baik.

Pada usia 13 tahun ia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi ia di pesantren ini mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan Abdul Wahid hanyalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Soal ilmu, demikian mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kyai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari Abdul Wahid ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, toh Abdul Wahid bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Benar juga, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Menerapkan Sistem Madrasah ke Dalam Sistem Pesantren

Pada 1916, KH. Ma’sum, menantu KH. Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Wahid Hasyim, memasukkan sistem Madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awwal dan siffir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awwal dan siffir tsani diajarkan khusus bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam. Pada tahun 1919, kurikulum madrasah tersebut ditambah dengan pendidikan umum, seperti bahasa Indonesia (Melayu), berhitung dan Ilmu Bumi. Pada 1926, KH. Mauhammad Ilyas memasukkan pelajaran bahasa Belanda dan sejarah ke dalam kurikulum madrasah atas persetujuan KH. Hasyim Asy’ari.

Pembaharuan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan KH. Hasyim Asy’ari, berikut murid dan puteranya, bukan tanpa halangan. Pembaharuan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orang tua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaharuan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi tersebut tidak menyurutkan proses pembaharuan Pesantren Tebuireng. Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.

Berangkat ke Mekkah

Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, ia dikirim ke Mekkah, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas, yang kelak menjadi Menteri Agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Abdul Wahid sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Muhammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa Arab, dan dialah yang mengajari Abdul Wahid bahasa Arab. Di tanah suci ia belajar selama dua tahun.

Dengan pengalaman pendidikan tersebut, tampak ia sebagai sosok yang memiliki bakat intelektual yang matang. Ia menguasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa Arab, Inggris dan Belanda. Dengan bekal kemampuan tiga bahasa tersebut, Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku dari tiga bahasa tersebut. Otodidak yang dilakukan Wahid Hasyim memberikan pengaruh signifikan bagi praktik dan kiprahnya dalam pendidikan dan pengajaran, khususnya di pondok pesantren termasuk juga dalam politik.

Setelah kembali dari Mekkah, Wahid Hasyim merasa perlu mengamalkan ilmunya dengan melakukan pembaharuan, baik di bidang sosial, keagamaan, pendidikan dan politik. Pada usia 24 tahun (1938), Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah.

Menikah

Pada usia 25 tahun, Abdul Wahid mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun. Pasangan ini dikarunai enam anak putra, yaitu Abdurrahman ad-Dakhil (mantan Presiden RI), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU, 1995-2000), Shalahudin al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB/Pengasuh PP. Tebuireng Jombang, sesudah KH. Yusuf Hasyim), Umar (dokter lulusan UI), Khadijah dan Hasyim.

Empat Tahun Sebelum Masuk Organisasi

Jangan ada orang yang memasuki suatu organisasi atau perhimpunan atas dasar kesadaran kritisnya. Pada umumnya orang yang aktif dalam sebuah organisasi atas dasar tradisi mengikuti jejak kakek, ayah, atau keluarga lain, karena ikut-ikutan atau karena semangat primordial. Tidak terkecuali bagi kebanyakan warga NU. Sudah lazim orang masuk NU karena keturunan; ayahnya aktif di NU, maka secara otomatis pula anaknya masuk dan menjadi aktivis NU. Kelaziman seperti itu agaknya tidak berlaku bagi Wahid Hasyim. Proses ke-NU-an Abdul Wahid Hasyim berlangsung dalam waktu yang cukup lama, setelah melakukan perenungan mendalam. Ia menggunakan kesadaran kritis untuk menentukan pilihan organisasi mana yang akan dimasuki.

Waktu itu April 1934, sepulang dari Mekkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Abdul Wahid Hasyim aktif dihimpunan atau organisasi yang dipimpinnya. Tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun-tahun itu di tanah air banyak berkembang perkumpulan atau organisasi pergerakan. Baik yang bercorak keagamaan maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis organisasinya dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh-tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Wahid Hasyim ke tanah air disambut penuh antusias para pemimpin perhimpunan dan diajak bergabung dalam perhimpunannya. Ternyata tidak satupun tawaran itu yang diterima, termasuk tawaran dari NU.

Apa yang terjadi dalam pergulatan pemikiran Abdul Wahid Hasyim, sehingga ia tidak kenal secara cepat menentukan pilihan untuk bergabung di dalam satu perkumpulan itu? Waktu itu memang ada dua alternatif di benak Abdul Wahid Hasyim. Kemungkinan pertama, ia menerima tawaran dan masuk dalam salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Dan kemungkinan kedua, mendirikan perhimpunan atau partai sendiri.

Di mata Abdul Wahid Hasyim perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak ada yang memuaskan. Itulah yang menyebabkan ia ragu kalau harus masuk dan aktif di partai. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap perhimpunan. Menurut penilaian Abdul Wahid Hasyim, partai A kurang radikal, partai B kurang berpengaruh, partai C kurang memiliki kaum terpelajar, dan partai D pimpinannya dinilai tidak jujur.

”di mata saya, ada seribu satu macam kekurangan yang ada pada setiap partai,” tegas Abdul Wahid Hasyim ketika berceramah di depan pemuda yang bergabung dalam organisasi Gerakan Pendidikan Politik Muslim Indonesia.

Setelah beberapa lama melakukan pergulatan pemikiran Wahid Hasyim akhirnya menjatuhkan pilihannya ke NU. Meskipun belum sesuai dengan keinginannya, tapi dianggap NU memiliki kelebihan dibanding yang lain. Selama ini organisasi-organisasi dalam waktu yang pendek tidak mampu untuk menyebar keseluruh daerah. Berbeda dengan NU dalam waktu yang cukup singkat sudah menyebar hingga 60% di seluruh wilayah di Indonesia. Inilah yang dianggap oleh Wahid Hasyim kelebihan yang dimiliki oleh NU.

Pokok Pemikirannya

Sebagai seorang santri pendidik agama, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren. Dari sini dapat dipahami, bahwa kualitas manusia muslim sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkatifitas. Sedangkan kesehatan rohani dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Disamping sehat jasmani dan rohani, manusia muslim harus memiliki kualitas nalar (akal) yang senantiasa diasah sedemikian rupa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam.

Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara langsung membina pondok pesantren asuhannya ayahnya.

Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren.

Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya.

Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:

* Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
* Menggambarkan cara mencapai tujuan itu
* Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.

Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam khususnya di lingkungan pesantren lebih berkosentrasi pada urusan ukhrawiyah (akhirat), nyaris terlepas dari urusan duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu, pesantren didominasi oleh mata ajaran yang berkaitan dengan fiqh, tasawuf, ritual-ritual sakral dan sebagainya.

Meski tidak pernah mengenyam pedidikan modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan pendidikan. Berkembangnya pendidikan madrasah di Indonesia di awal abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan oleh cendikiawan muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Apa yang dilakukan oleh Wahid Hasyim adalah merupakan inovasi baru bagi kalangan pesantren. Pada saat itu, pelajaran umum masih dianggap tabu bagi kalangan pesantren karena identik dengan penjajah. Kebencian pesantren terhadap penjajah membuat pesantren mengharamkan semua yang berkaitan dengannya, seperti halnya memakai pantolan, dasi dan topi, dan dalam konteks luas pengetahuan umum.

Dalam metode pengajaran, sekembalinya dari Mekkah untuk belajar, Wahid Hasyim mengusulkan perubahan metode pengajaran kepada ayahnya. Usulan itu antara lain agar sistem bandongan diganti dengan sistem tutorial yang sistematis, dengan tujuan untuk mengembangkan dalam kelas yang menggunakan metode tersebut santri datang hanya mendengar, menulis catatan, dan menghafal mata pelajaran yang telah diberikan, tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berdikusi. Secara singkat, menurut Wahid Hasyim, metode bandongan akan menciptakan kepastian dalam diri santri.

Perubahan metode pengajaran diimbangi pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal ini merupakan kemajuan luar biasa yang terjadi pada pesantren ketika itu. Dengan hal tersebut Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar yang dialogis. Dimana posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Pendapat guru bukanlah suatu kebenaran mutlak sehingga pendapatnya bisa dipertanyakan bahkan dibantah oleh santri (murid). Proses belajar mengajar berorientasi pada murid, sehingga potensi yang dimiliki akan terwujud dan ia akan menjadi dirinya sendiri.

Kiprah Sosial Kemasyarakatan dan Kenegaraan

Selain melakukan perubahan-perubahan tersebut Wahid Hasyim juga menganjurkan kepada para santri untuk belajar dan aktif dalam berorganisasi. Pada 1936 ia mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar Islam). Pendirian organisasi ini bertujuan untuk mengorganisasi para pemuda yang secara langsung ia sendiri menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini antara lain mendirikan taman baca.

Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Pada tahun ini Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemmudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini karirnya terus meningkat sampai Ma’arif NU pada tahun 1938. Setelah NU berubah menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.

Di kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama mencoba ikut memasuki trace baru bersama-sama organisasi sosial modern lainnya, sepeti Muhammadiyah, NU juga membentuk sebuah federasi politik bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lebih banyak di dorong oleh rasa bersalah umat Islam setelah melihat konsolidasi politik kaum nasionalis begitu kuat. Pada tahun 1939, ketika MIAI mengadakan konferensi, Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua. Setahun kemudian ia mengundurkan diri.

Wahid Hasyim juga mempelopori berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) yang anggota-anggotanya dikader untuk terampil dan mahir berpidato di hadapan umum. Selain itu, Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhnya ditangani oleh KH. A Kahar Mudzakir. Tahun berikutnya, 1945, Wahid Hasyim aktif dalam dunia politik dan memulai karir sebagai ketua II Majelis Syura (Dewan Partai Masyumi). Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri. Sedangkan ketua I dan ketua II masing-masing Ki Bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman Singodimejo.

Pada tanggal 20 Desember 1949 KH. Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dalam kabinet Hatta. Sebelumnya, yaitu sebelum penyerahan kedaulatan, ia menjadi Menteri Negara. Pada periode kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman, Wahid Hasyim tetap memegang jabatan Menteri Agama.

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946. Pada tahun ini juga, ketika KNIP dibentuk, KH. A Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Selama menjadi Menteri Agama, usahanya antara lain: [1] Mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta; [2] Menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950; [3] Merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia; dan [4] Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam kementerian agama.

Pada tahun 1952 KH. Abdul Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa al-Irsyad. Susunan pengurusnya adalah KH. A Wahid Hasyim sebagai ketua, Abikusno Cokrosuyoso sebagai wakil ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai wakil ketua II.

Sebagai Ketua Umum PBNU

Ketika Muktamar ke 19 di Palembang mencalonkannya sebagai Ketua Umum, ia menolaknya, dan mengusulkan agar KH. Masykur menempati jabatan sebagai Ketua Umum. Kemudian atas penolakan KH. A Wahid Hasyim untuk menduduki jabatan Ketua Umum, maka terpilihlah KH. Masykur menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Namun berhubung KH. Masykur diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin, maka NU menonaktifkan KH. Masykur selaku ketua umum, dan dengan demikian maka Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Ketua Umum.

Disamping sebagai Ketua Umum PBNU, KH. A Wahid Hasyim menjabat Shumubucho (Kepala Jawatan Agama Pusat) yang merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam. Awalnya Shumubucho adalah merupakan kompensasi yang diberikan kepada KH. Hasyim Asy’ari, mengingat usianya yang sudah uzur dan ia harus mengasuh pesanten sehingga tidak mungkin jika harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, ia mengusulkan agar tugas sebagai Shumubucho diserahkan kepada KH. Abdul Wahid Hasyim, puteranya.

Tokoh Muda BPUPKI

Karir KH. Abdul Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal dengan BPUPKI. Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro dari 62 orang yang ada. Waktu itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun.

Sebagai anggota BPKI yang berpengaruh, ia terpilih sebagai seorang dari sembilan anggota sub-komite BPKI yang bertugas merumuskan rancangan preambule UUD negara Republik Indonesia yang akan segera diproklamasikan.

Musibah di Cimindi

Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahhid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, dengan ditemani seorang sopir dari harian pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslim, dan putra sulungnya, Abdurrahman ad-Dakhil. KH. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.

Daerah sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi benturan, KH. A Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening, mata serta pipi dan bagian lehernya. Sementara sang sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.

Lokasi kejadian kecelakaan itu memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.

Ditetapkan Sebagai Pahlawan

Berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah memimpin suatu kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa.


Biografi singkat KH. Abdul Wahid Hasyim disarikan dari buku ”99 Kiai Kharismatik Indonesia” di tulis oleh KH. A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta.

Read More......

Tradisi Pesantren

IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai
Pengarang : Zamakhsyari Dhofier
Penerbit : LP3ES
Tahun Terbit : 1994


A. Pendahuluan
Buku dengan judul Tradisi Pesantren yang karang oleh Zamakhasary Zhofir adalah sebuah tesis untuk memperoleh gelar Doctor dalam bidang Antropologi Sosial pada Australian Bational University, Cambera, Australia pada tahun 1980.
Buku ini menyodorkan suatu laporan yang bersifat historis dan etnografis dengan pendekatan sosiologis tentang Pesantren Tegalsari dan Tebuireng, dengan fokus utama peranan kyai dan kedua pesantren tersebut dalam melestarikan dan menyebarkan Islam.
Pada umumnya studi tentang Islam di Jawa selama ini menitikberatkan analisanya dari segi pendekatan intlektual dan pendekatan teologi, hingga seringkali memberi kesimpulan yang meleset. Sebagai contoh, selama ini sering disimpulkan bahwa para kyai, karena sangat terikat oleh ajaran-ajaran kaum sufi dan mengamalkan tarekat, dianggap telah mengamalkan Islam yang salah, Islam yang hanya mementingkan hidup akhirat dengan melupakan kehidupan duniawi.
Oleh karena itu, agar tidak terjebak pada kesalahan dalam menyimpulkan Islam di Jawa, pendekatan sosiologis akan mengurangi kecendrungan menarik kesimpulan yang terlalu cepat seperti di atas.
Sebagai gambaran umum apa yang tulis oleh Geertz, ia secara tidak tegas dan saling bertentangan dalam menyimpulkan Islam di Jawa. Di satu pihak ia mengatakan bahwa kehidupan pesantren ditandai oleh tipe etika dan tingkah laku ekonomi yang bersifat agresif, penuh watak kewiraswataan dan menganut paham kebebasan berusaha. Sehingga banyak dari lulusan pesantren sebagai seorang pengusaha. Tapi di lain pihak, ia menggambarkan kehidupan pesantren hanya berkisar kepada kepentingan akherat yang bertujuan untuk memperoleh pahala dan lebih banyak berpikir tentang nasib mereka setelah di kubur. Ia juga menggolongkan orang-orang pesantren sebagai orang yang kolot, yaitu menerima paham-paham sinkretis yang bertentangan dengan Islam. Tetapi lucunya, sama dengan apa yang ia simpulkan tentang ciri-ciri abangan yang merupakan campuran keagamaan yang bersifat animistis, Hindu-Budistis, dan Islam.
Begitu juga dengan Deliar Noer yang salah paham terhadap Islam Tradisional di Jawa, dengan tanpa melakukan penelitian cukup di lembaga-lembaga pesantren ia menyimpulkan bahwa Islam tradisional walaupun mengikuti empat mazhab, akan tetapi umunya mereka tidak mengikutinya dan membatasi diri kepada ajaran-ajaran para imam yang berikutnya. Dalam bidang Tasawwuf, banyak penganut Islam Tradisional tergelincir ke dalam praktek-praktek syirik.
Pesantren sebagai bahan kajian di sini lebih terfokus kepada pesantern-pesantren yang ada di Jawa dan diindikasikan sebagai cikal bakal pesantren di seluruh Indonesia. Namun secara umum dalam kajian tentang pendidikan Islam para peneliti sebelum Zamahsyari Dhofir lebih fokus pada pendidikan Islam klasikal hingga muncul istilah “Islam tradisional” yaitu pendidikan Islam yang tidak menganut sistem klasikal dan “Islam modern” yang menganut sistem klasikal dan ini lebih banyak di kembangkan di Pulau Sumatera. Dan dalam buku tradisi pesantren ini hanya membahas tentang “ Islam tradisional”.

B. Ciri-Ciri Umum Pesantren
Sebelum tahun 60-an pendidikan pesantren di Jawa dan Madura lebih dikenal dengan nama pondok. istilah pondok yang dipakai berasal dari bahasa arab funduq yang berarti hotel atau asrama.
Sedang perkataan pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal santri. Tapi Jhons berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari Bahasa Tamil yang berarti ”guru mengaji”, sedang C.C Berg berpendapat istilah tersebut berasal dari bahasa india yaitu shastri yang berarti orang yang tahu buku suci Agama Hindu.
Pondok pesantren identik dengan kyai yang keberadaannnya tidak hanya dipatuhi oleh orang-orang dalam pesantren tapi menjadi tokoh agama dalam masyarakat tertentu. Oleh karena itu, masyarakat yang menginginkan anaknya menjadi seorang yang berilmu mereka menitipkan anak-anak mereka di pondok pesantren.
Pengajaran agama pada masyarakat Islam dilakukan secara bertahap. Pada tahap pemula yaitu mengenal bacaaan al-Qur’a>n biasanya dilakukan oleh orang tua di rumah mereka masing-masing, hingga pada tahap bisa membaca al-Qur’an. Ini dimaksudkan agar anak setelah masuk pondok bisa mendapatkan pelajaran agama dengan lebih cepat tanpa harus memulai dari belajar al-Qur’an, walaupun pondok pesantren juga mengajarkan santrinya yang belum bisa baca al-Qur’a>n dari awal.
Kehidupan pondok pesantren adalah kehidupan dengan pola hidup mandiri, di sini santri dituntut untuk dapat mengurus dirinya terutama kebutuhan badaniyahnya atau tidak tergantung pada orang lain kecuali kepada Allah. Begitu juga dalam belajar kitab-kitab klasik, kyai menuntut pemebelajaran secara individual, artinya setiap santri dituntut mampu belajar secara mandiri dan berusaha membaca kitab-kitab yang lebih besar setelah kyai memberikan dasar dalam mempelajarinya. Dengan pola seperti ini akan terlihat santri yang pintar dan kurang pintar.
Dalam sistem transfer keilmuan kyai menyimak secara individual setiap santri lebih dikenal dengan nama sorogan. Di samping sorogan pengajaran di pondok pesantren juga dilakukan dengan cara berkelompok antara 5 sampai 500 orang, mereka mendengarkan seorang kyai yang membaca, menterjemahkan dan menerangkan buku-buku yang berbahasa arab, sistem ini lebih dikenal dengan nama bandongan atau weton yang dalam istilah arab dikenal dengan halaqah yang arti bahasanya lingkaran murid, atau sekelompok santri yang belajar di bawah bimbingan kyai.
Pengajaran dengan sistem sorogan biasanya diperuntukkan bagi santri yang betul-betul ingin menjadi seorang ’alim dan kelaknya dapat mengajarkannya dan membuat pondok pesantren. Sedangkan sitem bandongan diselenggarakan secara umum, ini hanya sifatnya aktifitas di dalam pondok sendiri karena biasanya kyai memberikan kepercayaan kepada santri senior untuk mengajar kepada santri yunior dalam beberapa kelompok.
Tradisi pesantren dan juga termasuk tradisi Islam secara umum adalah pemberiaan Ija>zah yaitu pencantuman nama dalam suatu daftar rantai trasnmisi pengetahuan yang dikeluarkan oleh gurunya terhadap muridnya yang telah menyelesaikan pelajarannya dengan baik tentang suatu buku tertentu sehingga si murid tersebut dianggap menguasai dan dapat mengajarkannya kepada orang lain. Pemberian ija>zah ini hanya diberikan kepada santri-santri tingkat tinggi yang menguasai kitab tertentu sehingga kyai menyarankan untuknya membuka pengajian atau mendirikan pondok pesantren.

C. Elemen-Elemen Sebuah Pesantren
1. Pondok
Pesantren pada dasarnya tidak terlepas dari pemondokan atau asrama bagi para santri yang menuntut ilmu di pesantren tersebut. Pembangunan pondok bagi santri dibagun di atas tanah milik kyai, walaupun dalam perkembangannya sudah banyak pemondokan didirikan di atas tanah milik masyarakat yang diwakafkan ke pondok pesantren.
Pemondokan bagi santri merupakan ciri khas dari pondok pesantren dengan sistem pendiidkan tradisional sedang pada sistem modern hanya menyediakan gedung belajar dan santri pulang pergi dari rumah mereka atau sebagaian dari mereka menyewa rumah penduduk di sekitar pondok.
Di Jawa sendiri pemondokan dibangun sesuai dengan jumlah santri yang menuntut ilmu di pondok tersebut semakin besar jumlah santri, maka semakin banyak asrama yang dibutuhkan dan ini dibebankan kepada santri dan wali santri dengan uang sumbangan pembangunan. Sebagai contoh Pondok Pesantren Darussalam, blok Agung di Banyuwangi mewajibkan para santri membanyar Rp. 6.000, / setahun, menyediakan sepotong kayu bangunan, satu meter kubik pasir dan diwajibkan membuat 200 buah batu bata setahun sekali. Pesantren Ploso di Kediri mewajibkan para santrinya membayar uang pondok sebanyak Rp. 7.000,- setahun, dan mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya di kampung asal santri di waktu musim panen untuk kepentingan perluasan bangunan dalam lingkungan pesantren.
Ada tiga alasan pondok pesantren menyediakan pemondokan bagi santri. Pertama, kemasyhuran seorang kyai kedalaman pengetahuan agamanya menarik santri-santri dari jauh untuk menuntut ilmu dari kyai tersebut sehingga untuk dapat memaksimalkan diri menuntut ilmu santri harus menetap di dekat kediaman kyai. Kedua, hampir semua pesantren berada di desa-desa terpencil di mana tidak tersedia perumahan atau penginapan yang cukup untuk santri, dengan demikian secara tidak langsung perlu adanya asrama bagi santri jauh. Ketiga, ada sikap timbal balik antara kyai dan santri, di mana para santri menganggap kyainya seolah-olah sebagai bapaknya sendiri, dan kyai menganggap para santri sebagai titipan Allah yang harus senantiasa di lindungi. Sikap saling membutuhkan ini menimbulkan rasa tanggung Jawab kyai untuk menyediakan asrama bagi santri, dan tumbuh dalam diri santri sikap selalu taat kepada kyai.
Keadaan asrama biasanya sangat sederhana, cukup untuk berteduh dan menaruh beberapa barang pribadi sehingga santri yang kaya pun harus puas dengan keadaan seperti itu. Beberapa dapur juga disediakan bagi santri yang memasak, sedangkan yang lainnya bisa berlangganan makan di warung sekeliling pesantren, 2 atau 3 kali makan dengan membanyar uang di muka untuk satu bulan yang rata-rata bayarannya Rp. 4.000 sampai dengan Rp. 6.000 atau lebih, tergantung dari jenis lauk-pauk makanannya.
Untuk tempat tinggal santri putri biasanya terpisah dari asrama putra dan keadaannnya pun tidak jauh berbeda dengan arsama untuk santri putra.

2. Masjid
Keberadaan masjid tidak terlepas dari dunia pendidikan Islam karena ia adalah salah satu pusat pengembangan ajaran Islam pada masa awal Islam. Keberadaannya yang sangat vital menuntut pondok pesantren untuk membangun masjid dalam pesantren sebagai tempat mendidik para santri, shalat lima waktu, dan pengajian kitab-kitab klasik.
Seorang kyai yang ingin mengembangkan sebuah pondok pesantren biasanya pertama-tama akan mendirikan masjid di dekat rumahnya. Langkah ini diambil karena perintah gurunya yang menilainya telah mampu memimpin sebuah pesantren.

3. Santri
Pengertian santri lebih tertuju kepada pesantren dengan sistem pendidikan tradisional sedangkan pada pendidikan modern yang menganut sistem barat di sebut siswa. Namun dalam pendidikan sistem tradisional pesantren ada dua macam santri. Pertama, Santri Mukim yaitu santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren, dan mereka juga mempunyai tanggung Jawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. Kedua, Santri Kalong yaitu santri yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap di dalam pesantren. Untuk mengikuti kegiatan pesantren, mereka pulang pergi dari rumahnya sendiri.
Keberadaan jumlah santri mukim dan santri kalong menjadi cerminan besar dan majunya sebuah pondok pesantren. Semaikin besar jumlah santri mukim, maka semakin besar sebuah pesantren. Dan pesantren kecil jumlah santri kalongnya lebih banyak dari jumlah santri mukimnya.
Keberadaan santri di pondok pesantren dan menetap di asrama dengan berbagai alasan antar lain:
a. Ia ingin mempelajari kitab-kitab lain yang membahas Islam secara lebih mendalam di bawah bimbingan kyai yang memimpin pesantren tersebut.
b. Ia ingin memperoleh pengalaman kehidupan pesantren, baik dalam bidang pengajaran, keorganisasian maupun hubungan dengan pesantren-pesantren yang terkenal.
c. Ia ingin memusatkan studinya di pesantren tanpa disibukkan oleh kewajiban sehari-hari di rumah keluarganya. Di samping itu, dengan tinggal di pesantren yang sangat jauh letaknya dari rumah tidak memungkinkannya untuk pulang bolak-balik.

4. Kyai
Keberadaan kyai dalam sejarah pondok pesantren adalah salah satu yang sangat vital, karena keberlangsungan pesantren tergantung dari peran kyai di dalamnya.
Penyebutan kyai dalam sejarah pesantren atau masyarakat Islam di Jawa mempunyai tiga pandangan berbeda antara lain:
a. Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat seperti, ”Kyai Gadura Kencana” dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di keraton Yogyakarta.
b. Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya
c. Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pemimpin pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya.
Penyebutan kyai di beberapa daerah berbeda-beda. Di Jawa barat sendiri orang yang memimpin pesantren di sebut dengan Ajengan, sedangkan di Jawa Timur di sebut Kyai. Perkembangan zaman membawa perubahan areal penamaan kyai tidak terbatas pada orang yang mempunyai atau memimpin pondok pesantren, akan tetapi beberapa orang yang mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat walaupun tidak mempunyai pondok pesantren di sebut juga dengan kyai.
Sebutan kyai pada masa penjajahan mempunyai kedudukan yang prestise, karena kesultanan pada masa itu lebih banyak mengurus masalah politik, maka secara otomatis bidang agama dipegang oleh kyai. Karena cakupan bidang agama melingkupi segala aspek seperti, hak milik, perkawinan, perceraian, harta warisan, dan lain-lain, kekuasan kyai lebih besar dari pada kesultanan atau raja pada masa itu. Oleh karena itu, mereka lebih diterima secara umum di nusantara dan bahkan pada masa kemerdekaan banyak di antara mereka diangkat menjadi menteri, anggota parlemen, duta besar, dan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan.

D. Hubungan Intlektual Dan Kekerabatan Sesama Kyai
Sarana para kyai yang paling utama dalam usaha melestarikan tradisi pesantren ialah membangun solidaritas dan kerjasama sekuat-kuatnya antara sesama kyai. Cara praktis yang mereka tempuh untuk membangun solidaritas dan kerjasama tersebut adalah:
1. Mengembangkan suatu tradisi bahwa keluarga yang terdekat harus menjadi calon kuat pengganti kepemimipinan pesantren.
2. Mengembangkan suatu jaringan aliansi perkawinan endogamous antara keluarga kyai.
3. Mengembangkan tradisi transmisi pengetahuan dan rantai transmisi intlektual antara sesama kyai dan keluarganya.
Hubungan antar kyai dengan kyai lainnya terjalin dalam dua bentuk , yaitu kekerabatan memalui nasab atau keturunan dan kekerabatan melalui intlektualisme atau turun-temurunnya ilmu antar mereka.
Biasnya seorang kyai dalam pendidikan pesantren sangat mengutamakan anak-anaknya karena mereka adalah pengganti dan penerusnya, biasanya yang dipersiapkan adalah anak tertua dari kyai, sedangkan yang lain dipersiapkan untuk mendidirkan pondok pesantren yang lain atau menggantikan mertua mereka yang kebayakan juga seorang kyai.
Kebanyakan kyai juga mengawinkan anak-anak perempuan mereka dengan anak laki-laki dari kyai yang lain atau dengan murid-murid yang pandai dan memungkinkan bisa meneruskan kepemimpinan pesantren. Dengan mata rantai seperti ini, tidak salah bila kepemimpinan pondok pesantren di Jawa terbatas pada kalangan mereka yang berdarah kyai. Sebagai contoh, Kyai Sihah mempenyai 4 orang anak perempuan dan 6 anak laki-laki. Ia mengawinkan anaknya yang tertua, Layyinah, dengan seorang muridnya, Kyai Usman, yang kemudian mendirikan Pesantren Gadang di Jombang dalam permulaan tahun 1850-an. Kyai Usman mempunyai beberapa anak laki-laki, salah seorang di antaranya menggantikan dirinya sebagai pemimpin pesantren Gadang, dan yang lain mendirikan pesantren-pesantren baru. Kyai Usman mengawinkan salah seorang anak perempuannya, Winih, dengan seorang muridnya yang paling pandai, Kyai Asy’ari yang berasal dari Demak, Jawa Tengah. Kyai Asy’ari mendirikan pesantren Keras, 8 kilometer dari Jombang pada tahun 1876. Kyai Asy’ari mempunyai 4 anak perempuan dan 7 anak laki-laki. Salah seorang anak- laki-lakinya Kyai Saleh menggantikan kedudukannya sebagai pemimpinan Pesantren Keras.
Hubungan secara intlektual antar kyai pun tidak terputus, karena antar satu pesantren, baik dalam satu kurun zaman maupun dari satu generasi ke generasi berikutnya, terjalin hubungan intlektual yang mapan.
Pada dasarnya satu pesantren mengikuti watak atau bentuk dari pesantren lainnya tempat ia belajar. Karena seorang Kyai dapat diakui keilmuannya kalau ia mempunyai mata rantai keilmuan dengan kyai-kyai terkenal sebelumnya atau yang dikenal dengan nama sanad. Sanad tersebut memiliki standar, artinya dalam satu angkatan, ada ulama’ tertentu yang dianggap sah sebagai satu mata rantai, sedangkan yang lain dianggap batal dan diragukan. Setiap cabang ilmu dalam Islam menjaga standar daripada sanadnya sendiri. Kyai Munawir, pendiri pesantren Krapyak di Yogyakarta misalnya, terkenal di Jawa sebagai seorang kyai yang paling kompeten dalam tajwid di abad ke-20 ini. Dari mata rantai kyai Munawir dan gurunya ke atas, seseorang dapat layak mengajarkan ilmu tajwid.

E. Profil Pondok Pesantren Di Abad XX
1. Pondok Pesantren Tebuireng
Pondok pesantren Tebuireng didirikan oleh Kyai Hasyim ” Hadratu Syekh” pada tahun 1899 di Desa Cukir yang terkenal dengan pabrik gulanya pada zaman kolonial belanda hingga saat ini.
Pondok Pesantren Tebuireng berada di atas sebuah blok seluas kurang lebih 2 hektar, blok kedua dipakai sebagai lapangan olah raga, dan blok ketiga berrupa persawahan, luasnya kurang lebih 9 hektar dan terletak 9 kilometer di sebelah tenggara komplek pesantren, dan blok ini adalah aset pesantren dalam upaya pembiayaan pesantren. Blok pertama dan ketiga adalah wakaf dari Hadratu Syekh, sedangkan blok kedua dibeli oleh pesantren pada tahun 1974.
Seluruh komplek pesantren terdiri dari 4 unit gedung, masjid yang terletak di tengah-tengah komplek, rumah direktur pesantren, 15 unit pondok, dan gedung-gedung sekolah dan universitas.
Pesantren Tebuireng , yang mulai menarik mahasiswa yang telah mencapai tingkatan tinggi dalam pengetahuan Islam hanya memerlukan waktu 10 tahun untuk mengembangkan diri menjadi sebuah pesantren besar. Disamping kecakapan manajemen dari Hadratu Syekh, beliau juga dibantu oleh kyai-kyai senior seperti, Kyai Alwi, Kyai Ma’sum, Kyai Baidlawi, Kyai Ilyas, dan Kyai Wahid Hasyim. Seperti pondok pesantren yang lain, Tebuireng antara tahun 1899-1916 mengikuti sistem pengajaran sorogan dan bandongan.
Antara tahun 1916 dan 1934, madrasah di Tebuireng membuka tujuh jenjang kelas dan dibagi ke dalam dua tingkatan, yaitu sifir awwal dan sifir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki madrasah lima tahun berikutnya. Mereka dididik khusus untuk memhami bahasa arab sebagai landasan penting bagi pendidikan madrasah lima tahun. Kurikulum madarasah pada tahun 1916-1919 terdiri dari pengetahuan agama saja. Dan pada tahun 1919 mulai ditambah dengan pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Bumi, mulai tahun 1926 ditambah pula pelajaran Bahasa Belanda dan Sejarah, kedua pelajaran ini diperkenalkan oleh Kyai Ilyas, keponakan Hadratu Syekh yang menamatkan pendidikannya di H.I.S Surabaya.
Kyai Wahid Hasyim putra tertua Hadratu Syekh, sekembalinya dari belajar selama 1 tahun di Makkah mengusulkan sistem pengajaran bandongan diganti dengan sistem tutorial agar lebih efektif dan sistematis. Kemudian Hadratu Syekh menyetujuinya dan dibuatlah Madrasah Nidhomiyah pada tahun 1934, di mana pengajaran pengetahuan umum merupakan 70 persen dari keseluruhan kurikulum. Akan tetapi Madrasah Nidhomiyah ini terancam bubar dan ditiadakan setelah Kyai Wahid Hasyim lebih aktif sebagai pimpinan NU di tahun 1938. Sejak itu ia memilih jadi politikus daripada menjadi pimpinan pesantren. Dan kemudian digantikan oleh adiknya yang tertua Khaliq Hasyim sebagai direktur pesantren.
Sejak meninggalnya Hadratu Syekh pada tahun 1947, kelas Musyawarah tidak bisa diteruskan karena tidak ada yang mampu memimpin kelas ini. Namun demikian sampai permulaan tahun 1970-an, para santri senior masih bisa mengikuti pengajian kitab-kitab tinggi yang diajarkan oleh staf senior, yaitu Kyai Baidlawi, Kyai Idris, Kyai Adlan Ali, Kyai Karim Hasyim, dan Kyai Manan.
Tahun 1950-an sistem madrasah diorganisir untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kehidupan pesantren yang agak suram pada waktu itu. Dalam periode ini didirikan jenjang-jenjang madrasah dari madrasah Ibtidaiyyah, Madrasah Tsanawiyyah, Madrasah Aliyah, dan Madrasah Mu’alimmin.
Setelah Haliq Hasyim digantikan oleh Yusuf Hasyim, salah seorang putra Hadratu Syekh, sebagai direktur pesantren, ia membentuk Dewan Kyai dan Majlis Tarbiyyah wa Ta’li>m yang kedua-duanya menangani kegiatan pendidikan dan kehidupan keagamaan sehari-hari di pesantren. Kepemimpinan Yusuf Hasyim terbilang unik karena ia bukan berlatarbelakang seorang ahli agama, tapi ia memiliki keterampilan dalam mengorganisasi pondok. Banyak perkembangan baru menjadi terobosannya antara lain mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari pada tahun 1967 yang terbuka bagi mahasiswa putra dan putri, mendirikan madrasah Huffa>dh pada tahun 1971, dan mendirikan SMP dan SMA untuk murid pria dan wanita pada tahun 1975.
Akan tetapi padatnya kegiatan Yusuf Hasyim menjadi anggota DPR, pimpinan NU, dan PPP menyebabkan kekurangan waktu untuk dapat secara langsung memimpin Tebuireng. Akhirnya beliau mempercayakan kepada anggota Dewan kyai dan Majlis Tarbiyyah wa Ta’li>m untuk mengurus pesantren, walaupun belum dapat tidak dapat mengambil keputusan seperti direktur pesantren.
Keberadan Dewan Kyai dan Majlis Tarbiyyah wa Ta’li>m di Pesantren Tebuireng sangat berarti, karena majlis ini bertanggungjawab mengurusi masalah-masalah kesiswaan dan membuat rencana tahunan untuk pengajaran kitab-kitab Islam klasik pada kelas-kelas halaqah, terutama untuk tingkat dasar dan menengah. Majlis ini juga menentukan aturan-aturan tingkah laku, disiplin dan kesejahteraan siswa, mengorganisasi jam’iyyah dan mencari pengajar kitab. Jumlah anggota Majlis sebanyak 30 orang dan 20 dari mereka itu adalah santri senior yang juga bertitel ustadz karena mereka juga mengajar santri yunior dalam kitab-kitab dasar dan menengah.
Dalam 30 tahun pertama, tujuan pendidikan Tebuireng ialah untuk mendidik calon ’ulama. Sekarang ini, tujuan pendidikan Tebuireng sudah diperluas, yaitu untuk mendidik para santri agar kelak dapat mengembangkan dirinya menjadi ” ’ulama intlektual” ( ’ulama yang menguasai pengetahuan umum) dan ” intlektual ’ulama” ( sarjana dalam bidang pengetahuan umum yang juga menguasai pengetahuan Islam). Untuk mengejar kedua tujuan tersebut, Tebuireng menyelenggarakan 10 macam tipe aktivitas pendidikan yaitu:
a. Kelas Bandongan
b. Madrasah Ibtida>iyyah
c. Sekolah Persiapan Tsanawiyyah
d. Madrasah Tsanawiyyah
e. Madrasah ’Aliyah
f. SMP
g. SMA
h. Madrasah al-Huffa>dh
i. Jam’iyyah, dan
j. Universitas Hasyim ’Asyari
Kesepuluh aktivitas tersebut diselenggarakan secara terpisah dan pada waktu yang berlainan. Dengan demikian, setiap santri dapat mengikuti kegiatan sebanyak mungkin aktivitas pendidikan tersebut.

2. Pondok Pesantren Tegalsari
Pondok pesantren Tegalsari didirikan oleh Kyai Muhammad Rozi dengan bantuan saudara iparnya, Kyai Ali Munawwir. Kyai Muhammad Rozi dilahirkan di Tempursari dekat Klaten, yang setelah menikah dengan keluarga istrinya di Tegalsari, Salatiga, Ayahya, Kyai Imam Rozi, adalah pendiri Pesantren Tempursari (Klaten), sedangkan keponakannya Kyai Idris, adalah pemimpin pesantren Jamsaren (Surakarta), sebuah pesantren yang sangat terkenal sejak akhir abad ke sembilan belas sampai pertengahan abad ke dua puluh.
Tidak seperti Hadratu Syekh, Kyai Muhammad Rozi tidak memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Setelah belajar pada ayahnya sendiri, kemudian ia mendirikan Pesantren Tegalsari. Keterbatasan pendidikannya menyebabkan kurangnya pengaruh pesantren pada awal perkembangannya. Pengaruhnya baru mulai berkembang dengan lancar sejak menantunya, Kyai Abdul Jalil mendirikan cabang Tarekat Naqsabandiyyah di Tegalsari.
Kyai Abdul jalil dilahirkan di Banyumas, beliau menikah dengan anak pertama dari Kyai Muhammad Rozi dan menetap di Tegalsari. Kemudian oleh mertuanya ia dikirim ke Mekkah untuk belajar. Ia berada di Makkah selama 8 tahun, empat tahun ia habiskan untuk mempelajari bahasa arab, fikih, tafsir, hadis, dan tasawwuf. Sedang empat tahun terakhir dipergunakan untuk mengikuti kegiatan dan amalan tarekat di bawah pimpinan Syekh Sulaiman Efendi, sampai akhirnya dipercaya untuk mendirikan cabang tarekat di Tegalsari.
Kyai Abdul Jalil mengajarkan murid-muridnya untuk mempraktekkan sulu>k, di mana para murid selama 40 hari dilatih untuk beribadah sebanyak-banyaknya, terutama zikir dan wirid. Latihan ini dimaksudkan agar sekembalinya dari sulu>k, mereka tidak akan meninggalkan kebiasaannya melakukan amalan-amalan ibadah.
Keberhasilan Kyai Abdul Jalil mengembangkan Tarekat Naqsabandiyyah ini juga memungkinkan dirinya untuk memusatkan perhatiannya pada tugasnya semata-mata sebagai pemimpin agama. Ia dapat mengirim keenam anak laki-lakinya belajar ke Mekkah, tiga di antaranya tiggal di Mekkah antar lima sampai delapan tahun.
Pesntren Tegalsari belum sepenuhnya berkembang sewaktu Kyai Abdul Jalil meninggal dunia pada tahun 1916. Sedangkan anak tertuanya Kyai Jufri belum cukup cakap untuk memimpin pesantern karena ia tidak banyak menguasai mengajarkan kitab-kitab hanya memusatkan perhatian pada pengamalan ajaran-ajaran tarekat. Akhirnya pada tahun 1917, adiknya Kyai Hisyam yang masih berumur 22 tahun dan masih belajar di Mekkah terpaksa menghentikan kuliahnya dan mulai mengisi kekosongan kepemimpinan dalam pengajaran kitab-kitab. Ia cukup berhasil mengembangkan sistem madrasah yang dapat menarik anak-anak di sekitar Tegalsari.
Tapi, kini Pesantren Tegalsari hampir punah, namun dalam masa hampir satu abad, pesantren ini telah berhasil membentuk kelompok-kelompok masyarakat yang sangat taat kepada Islam di 4 dari ke-15 kelurahan di Kecamatan Susukan. Di empat kelurahan ini, yaitu Sidoarjo, Ketapang, Bakalrejo, dan Gentan, jumlah orang yang patuh kepada Islam sudah merupakan mayoritas penduduk. Secara tidak langsung perkembangan pesantren di daerah Candran di Kotamadya Salatiga yang dipimpin oleh Kyai Ghufron dan Ishom ( kedua-duanya putra terakhir Kyai Abdul Jalil ), adalah merupakan karya dan ekspansi pengaruh Pesantren Tegalari.

F. Kyai dan Tarekat
Pondok Pesantren Tebuireng telah menjadi pusat Tarekat Qadariyah dan Naqsabandiyyah sejak bulan Januari 1978. perkembangannya turut mempengaruhi lingkungan di sekitarnya, terutama daerah Jawa Timur. Kaitannya dengan perkembangan tarekat di pesantren, dalam pembahasan ini ada dua fokus bahasan yaitu pentingnya elemen tarekat dalam tradisi pesantren dan meneliti bentuk tarekat yang dipraktekkan oleh para Kyai.
Perlu diperhatikan ada dua term dalam masalah ini, yaitu Tasawwuf dan Tarekat. Tasawwuf bidang kajiannya hanya semata-mata pada aspek intlektual saja, sedang Tarekat lebih terarah pada aspek-aspek praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam lingkungan pesantren, istilah tarekat diberi makna sebagai suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan Syari’ah Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersifat ritual maupun sosial, yaitu dengan menjalankan praktek-praktek wara>’, mengerjakan amalan yang bersifat sunah, baik sebelum maupun sesudah shalat wajib, dan mempraktekkan riya>dhah.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tarekat adalah bagian inheren dari kehidupan pondok, ia merupakan amalan-malan murni ajaran Islam demi mencari satu jalan menuju Allah melalui praktek-praktek keagaman, bukan terkait dengan organisasi tarekat tertentu.
Pada umumnya para sarjana barat yang mempelajari Islam sependapat, bahwa tarekat merupakan salah satu unsur tambahan yang dianggapnya tidak memiliki sumber atau dasar yang kuat dari al-Qur’a>n dan al-Hadi>ts. Mereka juga menyimpulkan bahwa para penganut tarekat mengamalkan Islam yang salah, bertentangan dengan ajaran tauhid. Kesimpulan ini diambil dari praktek tarekat di mana seorang murid dianggap sah mengamalkan ajaran tarekat bila di bawah bimbingan seorang guru, karena ia menjadi perantara menuju Allah dan mempunyai otoritas mutlak atas murid-muridnya, baik dalam persoalan kehidupan spritual maupun material.
Namun pernyataan di atas dibantah oleh para Kyai, termasuk Kyai dan anggota tarekat di Jombang. Menurut mereka, bimbingan yang diberikan oleh guru tarekat dalam amalan-amalan tarekat itu tidak mereka anggap sebagai suatu ”campur tangan”, melainkan sebagai ”kawan” dalam perjalanan menuju ke sisi Allah. Para pemimpin tarekat mengajarkan keharusan adanya tawassul semata-mata untuk menaikkan status guru tarekat setinggi mungkin dengan tujuan kepercayaan yang tinggi kepada gurunya itu untuk selanjutnya dapat menumbuhkan kepercayaan yang kuat kepada si murid akan belas kasihan Allah dan balasan syurga. Dan kebanyakan dari mereka yang berguru kepada pemimpin tarekat bermaksud memperoleh pertolongan bersifat spritual, yaitu menghilangkan kejiwaan atau untuk memperkuat semangat dalam mencapai suatu keinginan. Sehingga kebanyakan dari anggota perkumpulan tarekat dewasa ini adalah orang-orang yang sudah lanjut usia yang tidak lagi didorong oleh keinginan mengejar kehidupan duniawi sebagai dasar memperoleh kebahagiaan. Setelah menyadari bahwa akhir hidupnya sudah semakin dekat, mereka merasakan kebutuhan spritual untuk lebih mendekati Allah.
Perkembangan tarekat di pulau Jawa sudah ada sejak abad ke-16, sebagaimana yang dikemukan oleh Profesor Rinkes bahwa Tarekat Sata>riyyah mula-mula dikembangkan oleh Abdurrauf Sinkel. Kemudian menyebar ke Jawa Barat, di bawah pimpinan Abdul Muhyi, salah seorang murid Abdurrauf Sinkel. Dari Jawa Barat kemudian menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Demikian pula Tarekat Qadiriyyah, bermula dari Aceh di bawah pimpinan Hamzah Fansuri yang selama hidupnya banyak berkelana ke daerah-daerah lain termasuk Jawa dengan maksud menyebarkan Tarekat Qadiriyyah.
Tarekat yang paling berpengaruh tersebar secara luas di Jawa pada saat ini ialah Tarekat Qadariyyah dan Naqsabandiyyah. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat empat kelompok organisasi tarekat lainnya, yaitu Syata>riyyah, Siddi>qiyah, Syadhi>liyyah, dan Wahi>diyah, namun tidak tersebar secara luas dan pengaruhnya relatif kecil.
Tarekat Syata>riyyah berasal dari India dan pertama kali didirikan oleh Syekh Abdullah Syattar (meninggal tahun 1485). Dewasa ini terdapat dua buah pusat Tarekat Syatta>riyyah di Jawa Timur, yaitu di Nganjuk (Madiun) di bawah pimpinan Kyai Kusnun, dan di Takeran (Madiun) di bawah pimpinan Kyai Turmudhi. Sebelum tahun 1966. Tarekat ini tidak begitu penting, tapi sejak tahun itu pengikutnya semakin bertambah dan kebanyakan pengikutnya berasal dari kaum abangan.
Lain halnya dengan Tarekat Sidd>iqiyyah yang asal-usulnya tidak begitu jelas. Namun muncul dan perkembangannya di Jombang, Jawa Timur, di mulai oleh kegiatan Kyai Muhktar Mukti yang mendirikan tarekat tersebut di Losari, Ploso (Jombang) pada tahun 1958. namun demikian, ia sendiri tidak menganggap dirinya sebagai pendiri pertama tarekat tersebut, tetapi menerima warisan kepemimpinannya dari Kyai Syu’aib yang pergi ke luar negeri dan menyerahkan kepemimpinan tarekat kepada Kyai Muhtar Mukti pada tahun 1958.
Sedangkan Tarekat Wahi>diyah didirikan oleh Kyai Majid Ma’ruf di Kedunglo (Kediri) pada tahun 1963. secara teoritis tarekat ini terbuka untuk siapa saja, karena orang tidak usah mengucapkan sumpah untuk menjadi anggota, siapa saja yang mengamalkan dzikir ” Salawat Wahidiyyah” sudah dianggap sebagai anggota. Yang mendorong Kyai Majid Ma’ruf mendirikan tarekat ini adalah untuk meningkatkan ketaatan orang Islam kepada perintah-perintah agama. Menurut pengamatannya, kehidupan masyarakat Islam di Jawa dewasa ini semakin jauh dari ukuran-ukuran keislaman, orang mengukur kehidupan semata-mata dari sudut kebendaan, sehingga mereka mengalami kekosongan agama dan kejiwaan.
Akan tetapi para Kyai yang tergabung dalam organisani NU di Jawa Tengah dan Jawa Timur mengnggap Tarekat Qodiriyyah dan Naqsabandiyyah sebagai tarekat yang mu’tabar (sah), sedangkan keempat tarekat di atas, dianggap tidak mu’tabar.
Pada tanggal 10 oktober 1957, para Kyai mendirikan suatu badan federasi bernama Pucuk pimpinan Jam’iyyah Ali Thori>qoh Mu’tabarah, sebagai tindak lanjut dari keputusan mu’tamar NU tahun 1957 di Magelang. Dalam Mu’tamar NU di Semarang tahun 1979 diganti dengan nama Jam’iyyah Thoriqoh Mu’tabarah Nahdliyyin. Sejak terbentuk, organisasi ini dipimpin oleh para Kyai terkenal antara lain; Kyai Baidlawi, Kyai Ma’sum dan Kyai Hafidh (ketiganya pemimpin Pesantren Lasem, Rembang), Kyai Muslih dari Mranggen (Semarang), Kyai Adlan Ali dari Tebuireng (Jombang), dan Kyai Arwani dari Kudus.
Tujuan pembentukan organisasi ini adalah untuk membimbing organisai-organisasi tarekat yang dinilai belum mengajarkan amalan-amalan Islam yang sesuai dengan al-Qur’a>n dan Hadi>ts, dan untuk mengawasi organisasi-organisasi tarekat agar tidak menyalahgunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang tidak dibenarkan oleh ajaran-ajaran Islam.

G. Faham Ahlussunnah Wal-Jama>’ah
Secara umum perkataan Ahlussunnah wal Jama>’ah dapat diartikan sebagai para pengikut tradisi Nabi Muhammad dan Ijma’ Ulama.
Sering disimpulkan bahwa pengikut Ahlussunnah wal Jama>’ah adalah suatu kelompok besar dalam lingkungan umat Islam di seluruh dunia, yaitu kelompok Sunni> yang dibedakan dengan kelompok Syi’ah. Tapi, bagi para Kyai Jawa, Ahlussunnah wal Jama>’ah mempunyai arti yang sempit. Tidak semata-mata membedakan dengan kelompok Syi>’ah, tetapi juga untuk membedakannya dengan kelompok Islam Modern ( yang berpegang hanya kepada al-Qur’a>n dan Hadi>ts dan menolak Ijma’). Secara eksplisit KH. Bisyri Musthafa menjelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jama>’ah adalah faham yang berpegang teguh kepada tradisi sebagai berikut:
1. Dalam bidang hukum-hukum Islam, menganut ajaran-ajaran dari salah satu mazhab empat. Dalam praktik, para kyai adalah penganut kuat Mazhab Syafi’i.
2. Dalam soal-soal Tauhi>d, menganut ajaran-ajaran Imam Abu Hassan al-Asy’ari> dan Imam Abu Mansu>r al-Maturidi>.
3. Dalam bidang Tasawwuf menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qo>sim al-Juna>id.
Dari formulasi di atas, menjadi jelas bahwa para kyai membedakan dirinya dari kaum Islam Modern yang tidak mengikuti ajaran-ajaran para Imam tersebut di atas. Dalam bidang tasawwuf, pengikut Islam Modern tidak membenarkan segala bentuk tarekat yang mengajarkan asetisme dan pengulangan jenis-jenis dzikir. Sebaliknya para kyai menganggap bahwa tarekat merupakan salah satu inti ajaran-ajaran dan praktek-praktek Islam.
Penolakan kaum Islam Modern terhadap segala bentuk praktek tarekat didasarkan kepada tiga alasan, yaitu; pertama, praktek dzikir dan wirid yang dilaksanakan oleh para pengamal tarekat dianggapnya terlalu berlebih-lebihan. Kedua, banyak guru dan pengikut tarekat yang seringkali mengamalkan hal-hal yang dianggap syirik seperti, azimat-azimat yang dianggapnya dapat memelihara pemiliknya dari roh atau nasib buruk. Ketiga, praktek dzikir melalui tawassul dianggap oleh kaum Islam Modern sebagai pengakuan adanya perantara dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Namun dalam bidang teologi mereka menegaskan tidak ada perbedaan, seperti:
a. Keduanya percaya sepenuhnya pada monotheisme, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.
b. Mereka percaya sepenuhnya kepada takdir dan kadar.
c. Mereka percaya akan adanya hari akhirat.
d. Mereka percaya sepenuhnya tentang peranan agama yang menyeluruh dalam mengatur kehidupan manusia.
Dalam bidang syari>’ah, kedua kelompok mengajarkan bahwa orang-orang Islam yang mengucapkan dua Kalimah Syaha>dht, mengerjakan sembahyang lima waktu, membayar zakat, puasa pada Bulan Ramadha>n, dan melaksanakan haji, dapat dianggap sebagai orang Islam yang baik dan mendapatkan balasan syurga di akhirat nanti.
Namun tidak dapat disangkal adanya perbedaan antara mereka terutama dalam masalah furu>’iyah. Para kyai menganggap amalan tambahan, baik ritualitas maupun nonritualitas yang baik, dapat diamalkan. Sebaliknya kaum Islam Modern menganggap amalan-amalan tambahan sebagai perbuatan mengada-ada atau bid’ah, sesuatu yang dilarang dalam Islam.

H. Kyai Dalam Situasi Indonesia Saat Ini
Tradisi pesantren dalam sejarah perkembangan bangsa indonesia mempunyai pengaruh yang besar, terutama oleh para kyai-kyai yang sekaligus juga sebagai pejuang. Walaupun para pemimpin di Indonesia tidak menyatakan Indonesia sebagai negara Islam, namun mereka juga mau menerima ideologi-ideologi dari barat yang bersifat liberalitas, humanistik, dan sekuler. Hal ini tampak pada pembukaan UUD 1945 dan dalam pancasila yang menjadi dasar dan falsafah Negara Indonesia.
Islam di Indonesia telah menjadi pendorong tumbuhnya gerakan nasionalisme memerangi penjajahan di negeri ini. Perjuangan para kyai sebagai bukti dari peranan islam dan sumbangsih kyai dalam upaya mempersatukan umat islam Indonesia. Bahkan pada masa kemerdekaan, banyak para kyai yang duduk di lembaga legislatif, baik di pusat maupun daerah.
Kebanyakan penulis tentang Islam Tradisional telah keliru menyimpulkan bahwa modernisasi menyebabkan peranan kyai tidak diperlukan lagi. Bahkan ada yang menyipulkan bahwa para kyai telah menghambat laju prosesnya modernisasi tersebut. Padahal dalam kenyataannya, disekeliling kita menunjukkan bahwa di tengah gejolak pembangunan ekonomi di Indonesia dewasa ini, para kyai tetap merupakan sekelompok orang-orang yang bersedia membangun kesejahteraan spritual bangsanya.
Para kyai dalam pesantren tidak menutup mata terhadap modernisasi dalam dunia pendidikan, mereka mengambil sikap lapang dada dalam menyelenggarakan modernisasi lembaga-lembaga pesantren. Namun modernisasi tersebut tidak merubah esensi pesantren sendiri sebagai tempat pengembangan tradisi Islam. Hal ini juga terlihat pada putra/putri kyai yang disekolahkan di universitas-universitas pemerintah dan setelah selesai mereka bekerja di kantor-kantor pemerintah atau balik ke pesantren membantu orang tua mereka guna melakukan modenisasi pendidikan pesantren.
Oleh karena itu, masa depan pesantren tentunya akan tergantung banyak kepada sikap kyai dalam menghadapi tantangan-tantangan yang timbul sebagai akibat proses perkembangan masyarakat Indonesia dewasa ini.

Read More......

6/22/2008

PROFIL PESANTREN TEBUIRENG


Profil Pesantren Tebuireng



Kompleks Pesantren Tebuireng terletak di desa Cukir, kurang lebih 8 kilometer di sebelah tenggara kota Jombang. Selain letaknya berdekatan dengan sebuah pasar yang cukup ramai, pesantren ini juga berhadapan dengan Pabrik Gula Cukir yang didirikan pada tahun 1853. Pabrik ini pada masa kini (1977-peng.) merupakan pabrik gula yang besar dan termodern di kawasan Jawa Timur. Didirikannya Pesantren Tebuireng di dekat sebuah pabrik gula ini merupakan suatu fenomena yang sangat menarik. Di zaman Belanda, gula pasir merupakan penghasil devisa yang besar bagi Pemerintah Kolonial Belanda dan pada waktu itu merupakan sebuah simbol dari kemajuan teknologi Barat, dan secara langsung mempengaruhi tingkah laku dan polapikiran para santri Tebuireng.


Kelurahan Cukir (jumlah penduduknya kurang lebih 7.000 jiwa pada tahun 1977) terletak di sebuah jalan propinsi yang menghubungkan Kediri dan Jombang dengan Surabaya, Madiun dan Malang; bis dan colt melewati jalan ini setiap 5 menit. Ada beratus-ratus rumah yang bagus di desa ini dan kebanyakannya dilengkapi dengan pesawat TV, yang hampir semuanya dimiliki oleh para pegawai pabrik gula, kyai, pedagang dan petani kaya. Sekitar 10 keluarga memiliki mobil. Namun demikian, mayoritas penduduk bekerja sebagai petani kecil dan pedagang-pedagang kecil. Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa ciri Kelurahan Cukir ini sangat spesifik dan kontradiktif. Di satu pihak kelurahan ini merupakan sebuah kampung, tetapi di lain pihak sangat bersifat urban. Sektor elite dari penduduk merupakan petani dan pedagang miskin. Pesantren Tebuireng itu sendiri kelihatannya memainkan dua peranan utama yang kelihatannya saling bertentangan (paradoxical). Sementara mempertahankan pikiran-pikiran Islam yang tradisional, di lain pihak ia telah menyumbangkan watak urban dari desa Cukir.
Sejak berdirinya, pesantren Tebuireng telah begitu berpengaruh dalam kehidupan politik di Indonesia, baik padatingkatnasional maupun lokal. Pimpinan tertinggi Pesantren Tebuireng hampir selalu merupakan bagian dari elitenasional, baik dalam Kabinet maupun dalam Parlemen. Para santri sebanyak 3.219 yang tinggal dalam tiga kompleks pesantren (Pesantren Tebuireng, Seblak dan Cukir) telah mengambil bagian dalam kehidupan sektorpasar. Para santri ini membelanjakan uang kira-kira sebanyak Rp 750.000,- sehari di pasar untuk keperluan makanan dan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Dari kenyataan inilah saya menyimpulkan, bahwa walaupun para kyai dan santri dari sudut latarbelakang mereka termasuk orang pedesaan, namun demikian mereka sangat terbiasa dan responsif terhadap kulturmetropolitan.
Kompleks pesantren berada di atas sebuah blok yang seluas kurang lebih 2 hektar; blok kedua dipakai sebagai lapangan olah raga, di mana para santri bermain sepak bola dan bola volley. Blok yang ketiga berwujud persawahan; luasnya kurang lebih 9 hektar dan terletak kurang lebih 9 kilometer di sebelah tenggara kompleks pesantren. Blok ketiga ini merupakan sumber pembiayaan pesantren yang terpenting. Blok pertama dan ketiga disumbangkan (diwakafkan) oleh Hadratus Syaikh, sedangkan blok kedua dibeli oleh Pesantren pada tahun 1974.

Sekeliling kompleks Pesantren Tebuireng dipagari dengan tembok setinggi dua meter. Bagi para santri dan tamu yang ingin keluar dan masuk kompleks disediakan 2 pintu gerbang yang berada di sebelah depan dan sebelah kiri bagian belakang. Di sebelah kiri depan terdapat pula pintu khusus untuk Direktur dan keluarganya. Pintu gerbang para santri terbuka antara pukul 4.30 pagi sampai dengan pukul 8.00 malam. Mereka yang ingin keluar masuk di luar jam tersebut harus memperoleh izin dari penjaga pintu di depan. Penjaga malam ada sebanyak 10 orang santri yang diatur secara bergiliran.

Seluruh kompleks pesantren terdiri dari 4 unit gedung-gedung: 1. mesjid yang terletak di tengah-tengah kompleks, 2. rumah Direktur pesantren, 3. 15 unit pondok, dan 4. gedung-gedung sekolah dan universitas.

Kompleks pesantren ini mempunyai generator untuk penerangan listrik dan penyediaan air.

Kompleks pesantren ini masih belum cukup besar untuk menampung seluruh kegiatan pendidikan dan fasilitas akomodasi bagi para santri. Mesjidnya hanya mampu menampung sebanyak kurang lebih 900 orang jamaah, yang berarti bahwa tidak semua 1.350 santri mukim dapat mengikuti sembahyang berjamaah lima waktu. Gedung universitasnya baru mampu menyediakan ruang-ruang kuliah bagi kurang lebih 50 persen mahasiswanya. Para mahasiswa Fakultas Pendidikan Agama (Tarbiyah) mengikuti kuliah-kuliah di Pesantren Denanyar, sedangkan mahasiswa-mahasiswa Fakultas Dakwah mengikuti kuliah di kota Jombang. Lima belas unit pondok yang ada, hanya memiliki kurang lebih 150 kamar, sehingga kamar-kamar pondok yang masing-masing berukuran kira-kira 2 x 2 meter harus menampung 9 orang santri.

Read More......

6/20/2008

Sekilas Mengenai Pendiri PON-PES Tebuireng Jombang Jawa Timur

Pendiri PON-PES Tebuireng Jomabang Jawa Timur
HADRATUS SYECK KH.HASYIM ASY’ARI


Hadhratusy Syaikh KH Hasyim Asy`ari rhm. Beliau adalah pendiri Pesantren Tebuireng dan perintis Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Hadhratusy Syaikh dilahirkan di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, pada 10 April 1875 dari keturunan ulama yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiyai Asy`ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, Kiyai Hasyim Asy`ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir). Nendanya, Kiyai Ustman terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Dan moyangnya, Kiyai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang.


Semenjak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan nendanya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Hasilnya, ia diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren karena kepandaian yang dimilikinya.
Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, semenjak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Mulai menjadi santri di KH.CHOLIL (madura) Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Di pesantren Siwalan ia belajar pada Kiyai Jakub yang kemudian mengambilnya sebagai menantu.
Pada tahun 1892, Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy`ari menunaikan ibadah haji dan tinggal di sana untuk menimba ilmu di Makkah. Di sana ia berguru dengan ramai ulama terkemuka antaranya Syeck Nawawi Al al bantani, Habib ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki, Syaikh Ahmad Khatib, Syaikh Mahfudz at-Tarmisi.
Setelah beberapa tahun di Tanah Suci, beliau kembali ke Indonesia dan dalam perjalanan pulangnya beliau singgah di Johor, Malaysia dan mengajar di sana. pada tahun 1899. Hadhratusy Syaikh mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad 20. Sejak tahun 1900. Dalam pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf rumi, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.
Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Hadhratusy Syaikh, setelah mendapat perkenan gurunya Kiyai Kholil Bangkalan, mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti “Kebangkitan Ulama“. Organisasi ini pun berkembang dan menjadi organisasi massa terbesar di Indonesia yang memiliki anggota hampir 30 juta jiwa. Pengaruh Hadhratusy Syaikh pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaan beliau. Kini, NU pun berkembang makin pesat. Organisasi ini telah menjadi penyalur bagi perkembangan Islam ke desa-desa maupun perkotaan di Jawa.
Meski sudah menjadi tokoh penting dalam NU, beliau tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Yang paling dibencinya ialah perpecahan di kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang cukup besar asalkan mau bekerjasama hingga akhirnya , tetapi ditolaknya hingga akhirnya beliau pernah di penjara. Beliau juga tokoh yang besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Atas jasa-jasanya itu, beliau telah dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Ulama besar ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 25 Julai 1947 dan di maqomkan lokasi Pon Pes Tebuireng.
Hadhratusy Syaikh mempunyai beberapa karangan yang ditulisnya dalam Bahasa ‘Arab, antaranya ialah “an-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin“. Dalam karangannya tersebut Hadhratusy Syaikh memperbincangkan antara lain masalah tawassul dan istighatsah kepada Junjungan Nabi s.a.w. dan para shalihin. Antara lain berisi “
….Demikian pula memohon melalui Nabi SAW, wali dan hamba yang shalih bukanlah meminta kepada mereka, tetapi meminta kepada Allah semata melalui mereka. Tawassul, meminta syafaat dan beristighosah melalui mereka tidaklah mempunyai pengertian lain dalam hati kaum muslimin kecuali sebagaimana yang disebutkan di atas. Dan tak seorang pun di antara mereka yang menghadapkan dirinya selain kepada Allah semata. Barangsiapa yang dadanya tidak dilapangkan untuk masalah ini, hendaklah ia menangisi dirinya sendiri. Kami meminta kepada Allah ampunan dan kesehatan.
Dalam hadis tentang syafaat akan diutarakan permintaan perlindungan manusia kepada para Nabi pada hari kiamat. Dalam hadis tersebut terdapat dalil yang sangat jelas mengenai sikap bertawassul kepada mereka, bahwa setiap orang yang berbuat dosa dapat bertawassul kepada Allah melalui orang yang lebih dekat kepada Allah daripada dia. Ini tidak dipungkiri oleh siapapun.
Tidak ada bedanya antara hal tersebut disebut dengan meminta syafaat, tawassul ataupun istighosah. Hal ini bukanlah termasuk perbuatan seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik yang mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembah selainNya, sebab hal ini memang kufur. Kaum muslimin, apabila bertawassul dengan Nabi SAW atau yang lainnya seperti para nabi, wali dan orang-orang shalih, tidaklah menyembah mereka, dan hal itu tidak membuat mereka keluar dari sikap tauhid mereka kepada Allah ta`ala. Hanya Dia sajalah yang memberikan kemanfaatan dan kemudaratan.... (petikan “an-Nurul Mubin” terjemahan Ustaz Khoiron Nahdliyyin dan Ustaz Ahmad Adib al-Arif)

Read More......
Design by Dzelque Blogger Templates 2008

TEBUIRENG - Design by Dzelque Blogger Templates 2008