Ponpes Tebuireng, Kenalkan Islam Tumpas Kemaksiatan
Jombang (GP-Ansor): Mulanya lokasi ini sebagai sarang maksiat, namun justru dipilihnya untuk dijadikan sarana dakwah. Itulah kisah didirikannya pondok pesantren Tebuireng oleh KH. Hasyim Asy’ari atau para santrinya biasa menjuluki dengan hadratusyaikh.
Memang banyak cara yang dilakukan para tokoh pemuka agama untuk mengenalkan Islam. Salah satunya, mendirikan pondok pesantren justru pada lokasi yang menjadi tempat maksiat.
Strategi inilah yang mungkin dipakai Kiai Hasyim Asy’ari untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia, khususnya di Jombang yang merupakan tanah kelahirannya. Ulama pembaharu pesantren yang juga sebagai pendiri organisasi masyarakat (ormas) Nahdlatul Ulama (NU) ini, pada zaman dulu berupaya agar masyarakat Jombang terhindar dari segala perbuatan maksiat.
Diceritakan salah satu sumber di Pondok Pesantren Tebuireng, sebelum Pondok Tebuireng dibangun, lokasi ini kerap dipakai untuk perbuatan maksiat, baik judi, mabuk maupun prostitusi. Lokasi ini memang mendukung untuk melakukan perbuatan-perbuatan itu karena memang letaknya berdekatan dengan Pabrik Gula Tjoekir yang pada waktu itu menjadi milik Belanda. Melihat fenomena ini, Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, 10 April 1875 itu kemudian menginginkan agar tempat ini menjadi tempat yang dipenuhi dengan umat muslim. Perlahan, dia mendirikan musala dan pesantren yang kini bernama Tebuireng.
Cara penyebaran agama Islam ini sebelumnya mendapat kecaman dari orang-orang sekitar. Namun dengan niat yang teguh dia tetap mengajarkan agama sesuai apa yang diperintahkan guru pendahulunya. Dia berpedoman mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat adalah salah satu tujuan utama perjuangannya. Saat ini, Tebuireng menjadi salah satu basis pondok pesantren di Jombang.
Masyarakat santri yang diidam-idamkan Hasyim Asy’ari pun kini menjadi kenyataan. Bukan hanya itu, santri Kiai Hasyim Asy’ari sendiri telah mampu mendirikan pondok-pondok besar di luar Kota Jombang. Tak salah jika Kiai Hasyim Asy’ari dijuluki ‘Ulama Pembaharu Pesantren’. Sejak kecil, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kiai Utsman. Tempaan pendidikan yang berat membuat Hasyim Asy’ari mampu menjadi santri yang haus akan ilmu. Bahkan, untuk memperdalam ilmu agamanya tersebut, Hasyim Asy’ari harus berpindah dari satu pondok ke pondok lainnya.
Tak hanya di Indonesia, Hasyim Asy’ari juga berkesempatan menimba ilmu di Mekkah pada 1892. Di sana dia berguru soal hadits pada Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi. Perjuangannya terhadap umat kembali dia tunjukkan dengan didirikannya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 31 Januari 1926. Bersama tokoh-tokoh Islam tradisional, Hasyim Asy’ari membesarkan NU hingga saat ini NU menjadi organisasi massa (ormas) dengan simpatisan terbesar di Indonesia. Berbeda dengan kiai-kiai yang berlabel NU lainnya, Kiai Hasyim Asy’ari tak ingin ada peringatan haul (memperingati wafat) atas dirinya, sebelum dia wafat tanggal 25 Juli 1947 silam.
’’Beliau takut jika ada yang mengultuskan dirinya. Meski begitu, beliau tak menolak adanya haul seperti yang banyak dilakukan kiai-kiai NU lainnya,’’ ujar Anas, Sekretaris Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Tebuireng. (jp/w)

0 comments:
Post a Comment